Bogortoday.id — Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) yang terus meningkat tidak hanya menjadi sorotan geopolitik dunia, tetapi juga mulai berdampak padaperekonomian Indonesia. Konflik yang melibatkan serangan udara dan serangan balasan tersebut telahmendorong kekhawatiran pasar global terhadap aset berisiko seperti mata uang negara berkembang, rupiah berpotensi melemah lebih jauh terhadap dolar AS akibat eskalasi konflik ini. Salah satu faktor utamanya adalah pergeseran sentimen pasar ke arah “risk-off”, di mana investor menarik modal dari pasar negara berkembang untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar dan obligasi AS. Pada saat konflik memanas, rupiah sudah berada di kisaran sekitar Rp 16.800 per dolar AS — level yang dinilai rawan bagi stabilitas mata uang domestik jika tekanan eksternal terus berlanjut. Meski begitu, analis juga mencatat jika eskalasi konflik hanya bersifat sementara dan belum mengganggu langsung jalur distribusi minyak global secara signifikan, efeknya bisa terbatas dalam hitungan hari atau minggu saja. Sementara itu, pemerintah dan pelaku pasar terus memantau situasi geopolitik ini untuk merespons potensi dampak lebih luas. Hingga kini belum ada tanda kapan konflik akan mereda, namun pergerakan harga minyak dan kurs rupiah menjadi indikator penting yang diawasi pasar. Post navigation Karyawan Nekat Bunuh Majikan Suami Istri, Polisi Cisarua Ungkap Kasus Hanya dalam Semalam Ngaku Kader, 2 Wanita Gasak Uang Santunan Korban Kebakaran di Bogor Tengah